Indonesia Siap Produksi Vaksin H5N1 (Flu Burung)

 

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menegaskan bahwa Indonesia siap memproduksi vaksin H5N1 (Flu Burung) dengan adanya penyerahan "seed vaccine" H5N1 dari Unair yakni A/Indonesia/Unair/2005. "Unair merupakan satu-satunya universitas di Indonesia yang meneliti flu burung, karena itu Wapres memberi apresiasi sampai dua kali ke Unair," katanya di sela-sela peresmian "Health Science Center" di Unair Surabaya, Minggu.

 

Didampingi Wamendiknas Prof Fasli Jalal, Sekjen Kemenkes, dan Rektor Unair Prof Fasich Apt, ia menjelaskan produksi "seed vaccine" untuk manusia itu sekarang bergantung kepada PT Bio Farma. "Yang jelas, apa yang dihasilkan Unair merupakan kebanggaan, karena kita tidak tergantung lagi kepada luar negeri. Lebih dari itu, kalau diproduksi di dalam negeri, tentu vaksin H5N1 akan lebih murah dan ketersediaan bahan dasarnya juga ada jaminan," ujarnya. Oleh karenanya, ia berharap PT Bio Farma segera mewujudkan "seed vaccine" menjadi vaksin H5N1 untuk manusia secepatnya, sehingga bukannya PT Bio Farma mengembalikan ke Unair lagi.

 

Selain itu, sampel dari hasil penelitian Unair hendaknya tidak dibawa ke luar negeri, karena hasilnya perlu dimanfaatkan untuk bangsa sendiri, apalagi peralatan, gedung, dan sumber daya peneliti sudah dimiliki Indonesia.

 

Senada dengan itu, peneliti Flu Burung dari Unair Dr C.A. Nidom menegaskan bahwa pihaknya melakukan penelitian H5N1 sejak ada pasien flu burung meninggal dunia di Bogor pada tahun 2005. "Hasil penelitian itu sebenarnya bisa kita tuntaskan dalam enam bulan, tapi virus yang menjadi materi penelitian masih harus menunggu dari Kemenkes, sehingga prosesnya agak lama," paparnya. Namun, katanya, pihaknya sudah menyerahkan "seed vaccine" ganas kepada Wapres pada tahun 2009 dan "seed vaccine" jinak diserahkan kepada Menko Kesra pada 21 Agustus 2011.

 

"Bagi Unair, penelitian yang dibiayai Bio Farma itu mengandung dua keuntungan yakni kami mampu membuat `seed vaccine` dan kami akhirnya memiliki 10 orang peneliti yang merupakan peneliti penyakit tropis potensial, karena usia mereka di bawah 35 tahun," ucapnya. Dengan dua keuntungan itu, katanya, pihaknya bersama PT Bio Farma akan siap menghadapi pandemi flu burung atau penyakit tropis lainnya seperti malaria, tuberkulosis, dan sebagainya hanya dalam 2-3 bulan. "Kalau ada pandemi dan kami mendapat tugas dari pemerintah, maka kami siap meneliti dalam waktu satu bulan dan PT Bio Farma akan memproduksinya dalam 1-2 bulan, sehingga semuanya akan teratasi dalam 2-3 bulan," katanya, menegaskan.

 

Ditanya tentang tingkat pandemi flu burung, ia menyatakan pandemi flu burung memiliki potensi besar di Indonesia, karena tingkat kematian mencapai 83 persen. "Sampai hari ini ada sekitar 176 kasus flu burung dengan 150-an orang di antaranya meninggal dunia, tapi kami belum mengetahui model penularannya, karena itu kami memilih untuk mencegah dengan `seed vaccine` itu," tuturnya.

 

Sumber: Antara 21 Agustus 2011